Tentang GKJW NGANJUK
1.
Pada tahun 1919 di desa Guyangan, Nganjuk ada persekutuan yang
anggotanya antara lain ; Mas Sastro dan Mas Poerboadi.
2. Dari dua orang tersebut diatas, berkembanglah persekutuan di
desa Kedondong, desa Sukomoro, desa Rejoso, Desa Gondang, Desa Gebang Ayu, desa
Ringinanom, desa Sugihwaras, desa Kerep dan desa Setren.
3. Karena pertumbuhan warga yang begitu pesat pada tahun 1929,
persekutuan orang-orang Kristen di Nganjuk mendapat bantuan Guru Injil dari
pasamuwan Aditoyo (dalam asuhan Pendeta A. Kooistra dari Kediri)
4.
Pada tahun 1930 Persekutuan di Nganjuk mendapat Guru Injil
tersendiri yaitu Bp. Oerip Sihardjo, maka dibentuklah Raad Pasamuan Alit
(sekarang disebut Anggota Majelis Pasamuwan.)
5.
Pada tanggal 18 Agustus 1930, Raad Pasamuwan mengadakan rapat
yang pertama kali di rumah Mas Sastrodihardjo, desa Kedondong – Nganjuk dengan
keputusan antara lain :
a.
Persekutuan orang – orang Kristen di Nganjuk mendewasakan diri
menjadi Pasamuwan.
b.
Memutuskan bahwa uang persembahan dari persekutuan orang – orang
Kristen yang besarnya seratus dua rupiah empat puluh sen menjadi milik Pasamuan
Nganjuk.
6.
Sejak tanggal 11 Desember 1931 Pasamuwan Nganjuk menjadi anggota
Pasamuwan Greja Kristen Jawi Wetan hingga saat ini.
7.
Pada tahun 1933 jumlah warga pasamuwan terdiri dari : 69 orang
warga dewasa dan 56 orang warga anak – anak (data dikutip dari Notulen Rapat
Raad Pasamuwan Alit Nganjuk tanggal 14 Januari 1933).
Adapun Susunan Anggota Raad Pasamuwan Alit adalah :
Pangarso : Bp. Guru Injil Oerip Sihardjo
Panitra : Bp. Prasodjo
Hartoko : Bp. Sihadi
Anggota : – Bp. Sudirdjo
– Bp. Natanael
8.
Dari Notulen Rapat tanggal 14 Januari 1933 kebaktian diadakan di
rumah sewaan Guru Injil, yang tidak dijelaskan dimana alamatnya. Menurut Bp.
Kromosastro salah seorang Panitra menyatakan bahwa, tempat kebaktian pindah –
pindah sampai 9 kali termasuk di rumah Bp. Kromosastro sendiri, dan yang terakhir
sebelum menempati gereja yang sekarang, menggunakan rumah di sebelah selatan
gedung gereja yang sekarang.
9.
Pada tahun 1942, banyak warga yang ditangkap oleh tentara
Pendudukan Jepang. Diantaranya Bp.Oerip Sihardjo, Bp. Djosiman, Bp. J. Matleus
Jr, B. M. Schurrman dan H W. Vd. Berg semuanya dipenjarakan dan diantaranya ada
yang meninggal di penjara.
10. Tahun
1953 : Keluarga S. Sastroatmodjo masuk menjadi warga GKJW Nganjuk (menerima
Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat). Saat itu yang jadi Pendeta Bpk. DS.
Djatmiko. Bpk. Somoadi sebagai guru sekolah minggu dan mbah Kromo Sastra
sebagai Guru Injil yang kerjanya selalu mengabarkan Injil sambil membawa
buku-buku dengan naik sepeda. Bpk. Parsuli (orang tua dari Pak Sasonohardjo.
Pak Dwi Suasono yang sekarang di GKJW Bojonegoro dan Pak Darmotaryono yang
sekarang di Jakarta) juga ada P.Parmadi juga P. Tugimin (Bpk. dari P. Guruh).
Gereja masih menempati kamar 4 x 4 m (sebelah kiri Gereja kita sekarang)
11. Tanggal 5
Desember 1954 : Pak Said Sastroatmodjo, ibu dan putro-putro alm. Bambang
Watjono Hadi, ibu Wahyuningsih, Bpk. Djoko Hartono, Bpk. Djoko Santoso dan
Suraris Setiyo di baptis oleh Bpk. Djatmiko (selaku Pendeta GKJW Nganjuk)
bersamaan dengan itu Bpk. Sunarbowo dan Ibu Sunarbowo juga baptis serta
mratobat dan baru daup suci yang jadi Rat Pasamuan Alm. P.Parsuli, P.Dirdjo,
P.Tugimin.
12. Pada 25
Desember 1955 : Bersamaan Baptisnya Bp. S.Sugiyohardjo dan Nugroho Andayani,
Bpk. Said Sastroatmodjo mempersembahkan satu buah mimbar dengan bahan kayu jati
dan satu buah kotak persembahan
Kromosastro : Guru Injil
Somoadi : Guru sekolah minggu
Sudirdjo : Rat Pasamuan
Tugimin : Rat Pasamuan
Intiyanto : Jemaat
Parsuli : Bendahara
Sunarbowo : Jemaat
Pamerdi : Jemaat
Turido : Jemaat
S.Sastroatmodjo : Jemaat pencari dana pembangunan
Haryono (Djon) : Jemaat Pencarai dana pembangunan (adik P.Pamerdi)
P. Setiyo : Jemaat (inspeksi pendidikan)
13. Pergerakan
awal untuk memiliki gedung gereja pada tahun 1965 pada saat Pdt. Pranislan
menjadi pendeta baku di GKJW Pasamuwan Nganjuk, yang ibadahnya saat itu
menggunakan rumah di sebelah selatan gedung gereja yang sekarang. Warga
jemaatnyapun belum banyak tidak lebih dari 10 KK antara lain keluarga Bpk.
Sudirdjo, Bpk. Said, Bpk.Parsuli, Bpk.Tugimin, Bpk.Mugono, Bpk.Ramelan,
Bpk.Setyomihardjo. Setelah peristiwa G/30/S/PKI usai, banyak orang yang ingin
dibaptis masuk menjadi kristen. Pada saat itu yang menjabat sebagai Bupati
Nganjuk adalah Bpk.Soendoro Hadinoto,SH dari PNI. Kemudian Pdt.Pranislan
mengadakan pendekatan dengan Bupati Nganjuk yang akhirnya Bupati Nganjuk
menugaskan : Bpk. Mi’an (Ketua Cab.PNI di Nganjuk), Bpk.Pulungan (Kejaksaan
Negeri Nganjuk) dibantu Bpk.Mugono selaku orang Kejaksaan Negeri Nganjuk yang
sudah menjadi warga Jemaat GKJW Nganjuk. Akhirnya diadakan kerja bhakti masa
yang digerakkan oleh PNI untuk mengumpulkan batu dari Daerah Kuncir-Sawahan
oleh para pemuda Banra.
14. Baru
setelah tahun 1966 Bpk. Pdt. Pranislan mempunyai firasat untuk menemui Bupati
Nganjuk yang pada saat itu dijabat oleh Bpk.Soeprapto,BA yang membuahkan hasil
yaitu untuk mempercepat pembangunan gedung gereja. Kemudian Bpk.Pdt Pranislan
bertemu Bpk.Dantoko selaku kepala PU saat itu untuk menangani secara teknis
pelaksanaan pembangunan gedung gereja sesuai perintah Bupati Nganjuk. Akhirnya
kepala PU memerintahkan Bpk.Firman Moeljono untuk menggambar gedung gereja yang
waktu itu belum masuk kristen.
15. Pelaksanaan
pembangunan gedung gereja ini sempat berhenti dengan keadaan masih dalam
bouplank (pengukuran galian pondasi), sampai akhirnya pada tahun 1968 baru ada
penunjukkan pemborong oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Nganjuk
Bpk.Soeprapto, pemborong yang ditunjuk adalah Bpk.Soemarmo Desa Kramat CV.
Ponco Adi. Sampai akhirnya tahun 1969 berdiri gedung gereja yang ditempati
sampai sekarang ini.
16. Namun
gedung gereja saat itu belum memiliki Rumah Kapanditan, dan sebelum ada rumah
Kapanditan itu keluarga pendeta menempati rumah Bp.Sudirdjo, sampai pada
akhirnya pada saat Pdt.S.K.Harjanto,Sm.Th menjadi pendeta baku di GKJW Jemaat
Nganjuk pada tahun 1972, membentuk Panitia Pembangunan yang antara lain
Bpk.Said, Bpk.Mugono, Bpk.Firman Moeljono
17. Tentang
pelaksanaan renovasi pembangunan gedung gereja GKJW Jemaat Nganjuk
Tgl. 2 Oktober 2005 : Penyempurnaan Panitia Pembangunan Gedung Gereja dari
Panitia tahun 2001 yang diketuai oleh Bp.Ir. Firman Moeljono, BRE kepada
Bp.Drs. Siswo Adie, M.Si.
Tgl. 25 Desember 2005 : Dalam Ibadah Natal dilaksanakan peletakan batu pertama
sebagai tanda pembangunan mulai berjalan.
Tgl. 11 September 2006 : Pembongkaran Gedung Gereja secara bertahap dan selesai
dalam waktu ± 8 bulan.
Tgl. 25 Mei 2007 : Secara resmi Gedung Gereja dipakai untuk ibadah Jemaat
sampai sekarang ini.
No Nama Pendeta Mulai-Sampai (tanggal) Status (Baku/Konsulen/lainnya)
1. OERIP SIHARDJO 1930 – 1934 Guru Injil
2. OESMAN DARMOATMODJO 1936 – 1941 Guru Injil
3. Pdt. TENITIJOMO TRENOWIJOTO – Baku
4. Pdt. DJATMIKO KARANGMODJO 1955 Baku
5. Pdt. PRANISLAN 1958 – 1972 Baku
6. Pdt. ISMANOE MESTOKO 1972 Baku
7. Pdt. SK. HARJANTO , Sm. Th. 1972 – 1983 Baku
8. Pdt. GIDEON MARDIONO B , Sth. 1984 – 1986 Baku
9. Pdt. SRIMOJO , Sm, Th. 1986 – 1996 Baku
10. Pdt. YOHANES PUJI SUGIARTO , Sth. 1996 Baku
11. Pdt. BAMBANG P.S , S Th. 1997 – 2003 Baku
12. Pdt. FAJAR YUWONO , Sm. Th. 2003 – 2009 Baku
13. Pdt. SINUNG MAWANTO, S.Th 2009 – 2018 Baku
14. Pdt. AGUS KURNIANTO, S.Th 2018 – 2021 Baku
15. Pdt. AGUS WASONO, S.Th., M.Min 2021 – 2025 Baku
Tidak ada komentar: